Untuk Apa Ibadah Kalau Hidup Tetap Susah?

UNTUK APA IBADAH KALAU HIDUP TETAP SUSAH?

Oleh : Ustadz Abu Haidar -hafidzahullah-

Donah Zohar mengarang sebuah buku “Spiritual Capital: Memberdayakan Spiritual Quotion di Dunia Bisnis”, yang mana buku ini menginspirasi banyak orang, tetapi dia tidak bisa menjawab ketika seorang anak bertanya,

“Mengapa aku harus hidup?”

Lihat pula beberapa contoh artis non-muslim yang tidak mengetahui apa tujuan hidupnya dan tidak beribadah. Mereka tidak menemukan kebahagiaan, bahkan meninggalnya dengan bunuh diri, di antara adalah: Kurt Cobain seorang penyanyi dari Seattle Washington Amerika memiliki ketenaran, kekayaan, istri yang cantik, dan populer. Ia meninggal pada 5 April 1994 karena bunuh diri. Dalam wasiatnya ia menulis,

“Saya ingin merasakan kedamaian, kebahagiaan dan kesenangan sebagaimana aku sewaktu kecil.”

Begitu pula dengan Robin Williams, seorang aktor dan komedian dari Paradise Cay, California USA, meninggal pada 11 Agustus 2014 karena bunuh diri juga disebabkan stress. Ia seorang penghibur tetapi tidak mampu menghibur dirinya sendiri.

Menurut firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an, semua orang non muslim yang meninggal dimasukkan ke dalam neraka. Tidaklah berguna harta mereka, ketenarannya ataupun jabatan yang dimiliki. Semua tidak berarti di hadapan Allah.

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya jannah, dan tempatnya ialah naar, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al-Maaidah: 72).

 

Karena keyakinan kita sudah dijamin Allah Ta’ala, Lalu bagaimana agar ibadah kita bisa bersemangat? Jawabannya adalah Cinta.

Dengan kekuatan cinta, seorang pemuda yang tidak pernah berhias rapi berubah menjadi berpakaian rapi. Demikian pula seorang gadis yang tidak pernah menulis surat cinta, tiba-tiba bisa menulis surat dikarenakan jatuh cinta. Ada cinta yang lebih dasyat dari itu semua ketika kita cinta ibadah. Cinta kepada sesama manusia saja bisa merubah hidup kita apalagi cinta kepada Allah Ta’ala. Ketika seseorang cinta ibadah, maka dia akan mempunyai energi yang sangat besar sekali karena dia sedang dimabuk cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Ibadah yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah ibadah wajib seperti shalat wajib, shadaqah wajib berupa zakat, puasa wajib yaitu di bulan Ramadan serta Haji bagi yang mampu. Namun, sesuai hadist Shahih Bukhari berbunyi,

“Jika hamba-Ku melakukan ibadah tambahan, maka Aku akan semakin cinta”.

Jadi, jika kita melakukan ibadah tambahan (nawafil/sunnah), maka hal ini yang menjadikan  Allah Ta’ala semakin cinta kepada kita dan Allah Ta’ala akan memberi fasilitas ‘khusus’, seperti terdapat dalam Hadist Qudsi berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ : مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhya Allah Ta’ala berfirman: ‘Barangsiapa yang memusuhi Wali-Ku maka Aku telah mengumumkan perang dengannya. Tidak ada taqarrubnya seorang hamba kepada-Ku yang lebih aku cintai kecuali dengan  beribadah dengan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara sunnah), maka Aku akan mencintainya dan jika Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku niscaya akan Aku berikan dan jika dia minta perlindungan dari-Ku niscaya akan Aku lindungi.’” (HR. Bukhari).

Untuk apa kita beribadah

ada 7 tujuan untuk apa ibadah :

  1. Perintah Allah yang disampaikan melalui firman-Nya dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56 yaitu kewajiban jin dan manusia untuk beribadah.
  2. Untuk berterimakasih kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, sebagaimana di dalam surat An-Naml ayat 40, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.“
  3. Kita membutuhkan Allah Ta’ala. Untuk itu, saat kita didzalimi segera berdoa untuk diri sendiri ( Al-Fath: 15-17).
  4. Ibadah adalah makanan rohani, seperti firman Allah dalam surat Yunus ayat
  5. Jalan menuju kemerdekaan hakiki, sesuai firman Allah Ta’ala dalam surat Az-Zumar ayat
  6. Ujian bagi hamba menuju Negeri Abadi yaitu Negeri Surgawi, seperti firman Allah dalam Al Qur’an surat Al-Ankabut ayat 64.
  7. Mintalah kepada Allah mulai dari makan, minum, pakaian termasuk minta ampunan (Hadist Riwayat Muslim).

Kapan kita masuk surga?

Jawabannya ada pada surat Al Baqarah ayat 214,

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Apabila kita sudah capek beribadah, ingatlah kembali surat tersebut agar tumbuh kembali semangat ibadah kita, tumbuh kembali cinta kita pada Allah ‘Azza wa Jalla.

Kita juga harus ingat bahwa bukan kita saja yang diuji oleh Allah Ta’ala. Bahwa manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi dan para sahabat. Ujian ini sesuai level keimanan seseorang. Semakin tinggi level keimanan kita maka semakin berat ujian dan cobaannya (Hadist Sunan Ibnu Majah (1334/2)). Jadi setiap ada ujian, maka bersabarlah untuk memperoleh kemenangan berupa kehidupan bahagia di dunia dan di akhirat.

Satu Hati Sejuta Peduli

Ikuti Kegiatan Terbaru Kami

Baca artikel keislaman Kami Lainnya

Leave a Comment