Berpasrah, Bertawakal | The Way To Happiness

Pasrah berbeda dengan menyerah. Berpasrah dalam terminologi aqidah adalah ber-tawakal

dan itu pahala, sedangkan menyerah adalah putus asa dan itu terlarang. Mayoritas orang mengartikan pasrah sebagai putus asa hingga akhirnya pasrah mereka jadikan pintu untuk lari dari permasalahan atau bahkan diam mematung dan tak berbuat apa-apa.

Pasrah (tawakal) dapat diartikan dalam 2 dimensi. Dimensi pertama adalah berserah diri kepada Allah dan dimensi kedua adalah berbaik sangka kepada Allah.

1. Dimensi pertama dari Berpasrah : Berserah Diri

Seorang tukang pos adalah seorang yang bertugas menyerahkan surat atau barang kepada penerimanya. Artinya dalam proses penyerahan ini harus ada sesuatu yang diserahkan, harus ada sarananya dan ada tujuannya. Demikian juga dalam proses berserah diri. Anda harus memiliki sesuatu yang akan anda serahkan terlebih dahulu.

a. Usaha(ikhtiar) adalah hal yang perlu kita serahkan. Artinya, tidak mungkin kita berserah diri tanpa ada usaha, karena sama artinya kita tidak menyerahkan apa-apa.

b. Sarana terbaik adalah melalui do’a dan dzikir. Sebagaimana banyak diajarkan oleh Allah kepada para nabi pilihannya.

Nabi Ibrahim berdo’a :

“Ya Rabb kami, hanya kepada Engkau kami berpasrah (tawakal) dan hanya kepada Engkau kami bertaubat dan hanya kepada Engakulah kami kembali.” (QS. Al Mumtahanah : 4 )

Rasulullah berdo’a :

“Katakanlah, :Dialah Rabb ku, tidak ada Allah selain Dia, hanya keada-Nya aku berpsrah (tawakal) dan hanya kepada-Nya aku bertaubat.” (Ar Ra’du:30)

c. Tujuan demi menggapai kebahagiaan adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan. Dialah Allah satu-satu-Nya zat yang diseru dan dicari.

“Dan berpasrahlah (bertawakal) kepada Allah Yang Maha Hidup (kekal) Yang tidak mati, bertasbihlah memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui Dosa-Dosa hamba-Nya” (QS. Al Furqan :58)

Ibnu Qayyim mengatakan

“Perumpamaan orang yang bergantung kepada selain Allah, seperti orang yang berteduh dari panas matahari dan udara dingin yang menyengat di sarang laba-laba, ia merupakan rumah yang paling lemah.”

2. Dimensi Kedua dari Berpasrah : Berbaik Sangka Kepada Allah

Untuk memahami dimensi kedua ini ada sebuah kisah nyata yang luar biasa. Tentang seorang guru yang ingin menjadi astronot ruang angkasa.

Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar dan aku bukan seoran g-pilot. Aku hanyalah seorang guru. Ketika ada kesempatan dari  gedung putih untuk mencari warga biasa untuk ikut penerbangan 51-L pesawat ulang alik Challanger, aku melamar. Dan begitu bahagianya diriku ketika amplop berlogo NASA yang berisi undangan untuk ikut seleksi diterima. Aku terus berdo’a dan ternyata doaku selalu terkabul karena aku lulus seleksi demi seleksi.

Dari semula 43 ribu pelamar kemudian menjadi 10 ribu orang dan aku menjadi salah satu dari 10 ribu orang itu, kemudian menjadi tinggal 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara, dan serangkaian tes lainnya. Siapakah diantara kami yang bisa melewati ujian akhir ini? Tuhan, biarlah diriku trpilih…begitu do’a di hatiku. Lalu tibalah pengumuman itu.

Ternyata NASA memilih Christina Mc Caufliffe. Aku kalah, hidupku hancur dan aku merasa depresi. Rasa percaya diriku lenyap, amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku bertanya kepada Tuhan, kenapa bukan aku ? Mengapa Engkau tak berlaku adil padaku Tuhan? Mengapa Engkau tega menyakiti hatiku Tuhan? Akupun menangis di pangkuan ayahku. Sambil memeluk dia berucap, “Semua terjadi karena suatu alasan.”

Selasa 28 Januari 1986. Aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku berkata kepada Tuhan “Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku. Saat itu Challanger meledak dan menewaskan semua penumpangnya.

Aku teringat kata-kata ayahku “Semua terjadi karena satu alasan…” aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walau aku sangat menginginkanya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah, aku seorang pemenang. Aku menang karena aku telah kalah

Aku, Frank Slazak

Mungkin sesuatu yang membuat kita bersedih dan menangis hari ini adalah sesuatu yang justru akan membuat kita tersenyum esok hari. Tetapi kita harus tetap bertahan untuk menyambut saat paling membahagiakan itu datang kelak. 

Dengan begitu, kita akan terus memiliki sebuah harapan di dalam hatinya. Orang bahagia adalah orang yang selalu menemukan celah sempit apapun untuk berbaik sangka saat mungkin orang lain menganggap tidak ada celah sedikitpun untuk baik sangka itu.

Buku The Way to Happiness oleh dr Arief Alamsyah

“Orang bahagia adalah orang yang percaya bahwa Rabb-Nya adalah Rabb yang baik kepadanya.”

Leave a Comment