ILUSI PIKIRAN | CHRONICALLY UNHAPPY

(bagian 1)

Oleh: dr. Arief Alamsyah, MaRS

Ilusi Pikiran

Dalam hidup ini, sadar atau tidak, kita sering melihat ilusi-ilusi kehidupan. Ilusi itu tampak demikian nyata bagi kita walaupun sebenarnya tidak. Untuk bahagia, kita perlu memahami ilusi-ilusi ini agar kita dapat merespon setiap situasi dengan lebih proporsional. Dengan memahami ilusi-ilusi ini, kita akan terhindar dari jebakan keyakinan dan pikiran yang sering membuat kita tidak bahagia. Ilusi pikiran timbul karena kita mendistorsi pikiran kita sendiri sehingga dengan pikiran itu kita menjadi selalu cemas dan tidak bahagia.

Dokter David Burns dalam bukunya Feeling Good mengungkapkan orang yang cenderung tidak bahagia (feel bad) adalah orang yang memiliki ilusi-ilusi pikiran seperti:

Pemikiran All or None (Semua atau Tidak sama sekali)

Ilusi pikiran ini biasanya ditandai dengan pemakaian kata-kata selalu, semua, tidak pernah sama sekali, dll. Pemikiran seperti ini hanya akan menyeret kita kepada pandangan yang tidak toleran dan membuat kita semakin menderita secara kronis. Pemikiran ini menutup sikap berbaik sangka dan kita cenderung tidak pernah melihat kebaikan pada diri seseorang secara proposional. Contoh ilusi pikiran ini:

“Semua yang dilakukan pasangan saya membuktikan dia tidak sayang padaku”

“Dia selalu menjelek-jelekkan saya”

“Dia tidak pernah sama sekali menghargai saya”

Generalisasi Berlebihan

Ilusi pikiran yang ini biasanya ditandai dengan sikap kesewenang-wenangan kita terhadap sesuatu walaupun hanya terjadi sekali saja. Ilusi ini bisa demikian berbahaya dan dapat terus menimbulkan reaksi berantai yang kadang sulit dikendalikan. Saya memiliki pengalaman berharga dengan seorang teman yang merasa tidak punya teman di kelas hanya karena sahabatnya di suatu pagi tidak menyapanya. Padahal sahabatnya saat itu sedang terburu-buru.

Kejadian ini rupanya terekam dalam pikirannya dengan sangat kuat. Karena teman saya tadi memiliki ilusi pikiran generalisasi berlebihan, hidupnya serasa terasing akhirnya dia lambat laun menarik diri dari pergaulan dan akhirnya teman saya ini harus dirawat di sebuah rumah sakit untuk memulihkan kesehatan mentalnya. Contoh ilusi pikiran ini:

“Dia kemarin tidak menelpon saya artinya dia tidak perhatian dengan saya” (padahal baru 1 kali tidak menelpon).

“Dia kemarin tidak datang pertemuan berarti dia tidak menghargai saya” (padahal baru satu kali tidak datang pertemuan).

Filter Mental

Ilusi pikiran ini ditandai dengan keinginan kita untuk melihat hanya sisi negatif dari setiap peristiwa yang kita alami. Pikiran kita seakan menyaring semua hal positif hanya sesuatu yang negatif yang dapat lolos dari pikiran kita. Akhirnya kemana-mana kita selalu memakai kaca mata “negatif”.

Positive Disqualification

Ilusi pikiran ini lebih ekstrem dari filter mental. Anda tidak mengabaikan hal positif, namun jika anda melihat seseorang melakukan hal yang positif dan menyenangkan anda, anda justru merubahnya menjadi hal negatif. Contohnya adalah ketika orang yang anda benci memberi anda senyuman dan membantu anda dengan tulus, Pikiran anda justru mengatakan “Dia sedang cari muka”.

Pembacaan Pikiran

Ilusi pikiran ini ditandai dengan pikiran anda yang selalu mereka-reka sendiri apa yang sedang dipikirkan orang lain, tetapi rekaan itu kebanyakan adalah rekaan yang negatif. Sebagai contoh, jika seseorang lupa menghubungi balik anda, anda mengira mungkin ia tidak menyukai anda.

Sumber: Buku The Way of Happines

Baca Artikel Motivasi Lainnya

Ikuti Kegiatan Sosial Terbaru Kami: @yasapeduli

Leave a Comment