Jangan Membandingkan, Maka Anda Akan Bahagia

Oleh : Cahyadi Takariawan

Mengapa banyak orang tidak bahagia dalam kehidupannya? Banyak orang menderita dan tidak bahagia karena membandingkan. Apalagi di zaman sekarang terlalu banyak sarana yang membuat orang mendapatkan bandingan. Berikut saya ambil contoh membandingkan yang membuat tidak bahagia.

Membandingkan kecantikan dan ketampanan

Instagram dan berbagai fitur media sosial lainnya, telah mengobral wajah cantik, bening dan menarik. Perempuan yang putih mulus, muslimah yang ayu dan anggun, terpampang wajahnya melalui akun instagram dan media lainnya. Lelaki dengan mudah memelototi, akhirnya ia merasa betapa jauh kecantikan istrinya dibandingkan wajah-wajah tersebut. Ia mulai merasa tidak bahagia dengan kondisi sang istri. Dan begitu pula berlaku pada istri terhadap suaminya.

Padahal, menurut para ulama, anda bisa menjadikan istri anda sebagai perempuan paling cantik di muka bumi ini. Caranya, jangan memelototi perempuan lain. Anda bisa menjadikan suami anda sebagai lelaki paling ganteng di muka bumi ini. Caranya, jangan memelototi laki-laki lain. Cukuplah pasangan halal anda, dan bersyukurlah.

Membandingkan Kesalihan

Bahkan di zaman sekarang, kesalihan mudah dibandingkan. Media sosial membuat pencitraan yang luar biasa luas pengaruhnya. Seorang lelaki yang memposting hal positif seperti : “Alhamdulillah, telah menyelesaikan tilawah dua juz hari ini” membuat netizen berkesimpulan, betapa salih dirinya.

Betapa banyak tilawahnya. Sangat jauh dibanding suamiku. Ternyata suamiku malas ibadah, ternyata suamiku tidak salih. Di luar sana, banyak lelaki lebih salih dan lebih ganteng dari suamiku. Ia mulai mempersoalkan standar kesalihan suaminya.

Demikian pula seorang lelaki, ia bisa terkagum atas ke-salihah-an wanita muslimah yang rajin memposting kegiatan pengajian dan ibadahnya. Misalnya: “Hari ini buka puasa ayamul bidh bersama teman-teman pengajian, betapa indahnya hidup dalam ukhuwah”.

Sungguh tausiyah yang indah dan penuh motivasi, namun di sana ada lelaki yang merasa istrinya sangat jauh dari standar wanita salihah. Ternyata istriku malas ibadah dan tidak salihah dibanding wanita muslimah lainnya. Ia mulai merasa tidak bahagia atas kondisi istrinya, padahal sebelumnya biasa saja.

Membandingkan keharmonisan

Seorang istri melihat foto-foto mesra teman facebook bersama pasangannya. Ia mulai membandingkan, “Betapa harmonis keluarga dia. Tampak serasi dan selalu mesra. Suamiku sangat jauh dibandingkan suaminya. Sulit bersikap romantis. Tidak seperti suaminya”. Akibatnya ia mulai merasa kecewa dengan keadaan suaminya.

Demikian pula seorang lelaki yang melihat foto-foto temannya di instagram sedang travelling dengan sang istri. Lelaki ini mulai membandingkan, “Betapa sulit istriku diajak bepergian seperti ini. Apalagi naik motor jarak jauh. Ia selalu menolak. Tidak seperti istri temanku yang mudah diajak travelling berkendara motor”. Ia mulai kecewa dengan keadaan istrinya.

Membandingkan kebahagiaan

“Kami selalu bahagia”, tulis seseorang di akun facebooknya, disertai gambar satu keluarga yang tengah tamasya di Bali. Seorang istri menunjukkan foto itu kepada suaminya, “Lihat betapa bahagia keluarga ini. Mereka selalu punya waktu rekreasi bersama”. Padahal itu sekali-kalinya mereka rekreasi dan diunggah ke facebook. Sang istri mulai memiliki bandingan tentang kebahagiaan, bahwa bahagia itu rekreasi ke Bali bersama seluruh keluarga.

Berhentilah Membandingkan, Anda akan Bahagia

“Membandingkan” inilah yang sering menjadi masalah, karena cara membandingkannya salah. Membandingkan yang benar itu misalnya, “Masih banyak orang lain yang lebih sengsara dari kita”, maka dirinya bisa bersyukur dan bahagia walau sedang dilanda banyak masalah. Membandingkan yang salah itu misalnya, “Betapa banyak orang kaya di sekitar kita, hanya kita yang miskin”. Dirinya akan merasa menderita dan tidak bahagia.

Itulah sebabnya orang tidak bahagia. Karena ia mencari dari orang lain. Ia tidak masuk ke dalam dirinya sendiri, dan menemukan kebahagiaan di dalam dirinya sendiri. Harusnya ia selalu menikmati semua yang ada. Merasakan kasih sayang Allah dalam setiap kejadian yang menimpanya. Menghayati kehidupan dari semua pemberian Allah yang didapatkan setiap hari. Sedikit atau banyak, itu tinggal cara kita menikmatinya.

Jika anda terus mencari kebahagiaan kepada benda-benda, selamanya anda tidak akan pernah bisa merasakan bahagia. Demikian pula dalam kehidupan berumah tangga. Bahagia itu akan selalu didapatkan apabila pandai mencari dan merasakan kebahagiaan bersama pasangan tercinta.

Bahagia itu letaknya di dalam jiwa. Temukan kebahagiaan di dalam jiwa anda. Jangan mencari dari orang lain. Jangan membandingkan secara salah.

Selamat berbahagia.

Baca Artikel Pengembangan Diri Lainnya

Artikel Pengembangan Diri YASA Peduli

Ikuti Kegiatan Terbaru Kami

@yasapeduli

Leave a Comment