Ketidak Bahagiaan: Pembunuh Dalam Diam

CHRONICALLY UNHAPPY

The Silent Killer

Ketidak Bahagiaan

Keadaan tidak bahagia (unhappy) bukanlah keadaan statis. Ia dapat berubah menjadi lebih ringan atau bahkan memberat. Jika kita abaikan, keadaan tidak bahagia (unhappy) hanya akan membuat kita semakin terpuruk. Ia bahkan dapat membunuh kita secara perlahan.

Ia membunuh kita dengan menyerang kesehatan kita, mematikan potensi kita dan meredupkan harapan kita. Bahkan dalam pengalaman saya menghadapi pasien, keadaan tidak bahagia (unhappy) bahkan dapat melumpuhkan motivasi dan jiwa spiritualitas mereka. Karena itu, keadaan tidak bahagia (unhappy) harus ditangani dengan strategi yang benar agar berubah menjadi keadaan yang membahagiakan.

Kuncinya adalah membuka diri, memahami ilmunya, dan mencoba berkomitmen untuk menjalani agenda perubahan. Jika kita tidak mau (enggan) berubah maka keadaan tidak bahagia akan semakin memberat seiring perjalanan waktu.

Perasaan tidak bahagia itu menjadi keadaan yang kronis yang dapat menimbulkan kelelahan kronis yang disebut burn out. Burn out adalah suatu sindrom yang disebabkan pajanan (exposure) terhadap masalah emosional yang lama, yang ditandai oleh adanya kelelahan ekstrem (Exhaustion) dalam hal fisik, emosional, perilaku dan munculnya perasaaan diri tidak berharga.

Kelelahan Fisik dan Tidak Ada Harapan

Kelelahan fisik (Physical Exhaustion) biasanya ditandai dengan tubuh terasa lelah (fatigue) tanpa sebab yang jelas dan tubuh seperti kehilangan energi (lack of energy). kelelahan fisik ini dapat menimbulkan sebuah vicious circle (lingkaran setan). Kelelahan fisik akan membuat anda malas untuk bertindak, akibatnya anda hanya diam dan tidak kunjung mau berubah atau mencari pertolongan. Akibatnya, anda akan semakin tenggelam dalam keputusasaan.

Begitu seterusnya seakan tidak berujung. Kelelahan emosi (Emotional Exhaustion) biasanya ditandai dengan depresi dan perasaan tidak punya harapan (hopelessness). perasaan tanpa harapan inilah yang paling berbahaya. Perasaan ini hanya akan menyeret kita pada sebuah keyakinan “salah” bahwa hidup kita harus segera diakhiri.

Kelelahan Perilaku

Hidup makin lama hanya akan menambah ketidak berhargaan kita. Kelelahan perilaku (Attitudinal Exhaustion) biasanya ditandai dengan sikap sinis-mudah marah-reaksioner (cynicism), mudah menyalahkan (blaming), dan pandangan negatif terhadap orang lain atau situasi tertentu. Kelelahan perilaku kadang berbuah perilaku negatif yang tidak jarang memancing ketidaksukaan orang lain pada kita. Akhirnya, kita semakin dijauhi dan perasaan ini semakin meyakinkan kita bahwa kita tidak berharga.

Bangkit dan Lebih Kuat

Pertanyaan selanjutnya, apakah keadaan burnout ini reversible alias bisa kembali normal? Jawabannya: dapat. Niat yang kuat (intention) dan benar serta support dari orang lain terlebih dari orang-orang terdekat menunjukkan bukti di lapangan bahwa burn out dapat kembali normal.

Tercatat beberapa artis top dunia pernah mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Bagusnya mereka belajar dari perbuatan itu dan bangkit kembali. Bahkan prestasinya (di bidang mereka) jauh melebihi prestasi saat sebelum mereka mengalami burn out. Elton John, penyanyi legendaris Inggris ini, pernah mencoba mengakhiri hidupnya dengan memasukkan kepalanya ke dalam kompor gas. Tapi ia keburu ditemukan oleh rekannya, Berie Taupin.

Aktris Halle Berry, kegagalan artis ini dalam perkawinan pertamanya dengan bintang base ball, David Jaustice, membuat Halle berpikir pendek. “Saya mengurung diri di dalam mobil yang mesinnya dinyalakan sehingga keracunan gas karbonmonoksida,” kenangnya. Pada detik-detik terakhir, dia berhasil ditarik keluar dari mobil oleh ibunya. Ia lalu tenggelam dalam kerja kerasnya dan merebut Piala Oscar-lambang keunggulan karya dalam industri film dunia.

Drew Barrymore, yang terkenal sejak film anak-anak ET lama terjerumus dalam narkoba. Rupanya ia tidak sanggup mengatasi kepopulerannya dalam usia yang teramat belia. Pada usia 14 tahun, Drew pernah mencoba bunuh diri dengan meminum obat penenang sebanyak-banyaknya. Tapi, umur Drew masih panjang, dia bahkan menjadi aktris dan produser paling sukses di Hollywood saat ini.

Eminem, rapper kontroversial ini, pernah mencoba bunuh diri dengan mengkonsumsi sebotol penuh obat anti depresi ketika ditinggal mati istrinya, Kim Mather. Tapi ia berhasil bangkit dan menjadi rapper kulit putih yang diakui di dunia setelah Vanila Ice.

Pertanyaannya, kalau para artis yang hidup hedonis saja dapat bertahan dan bangkit, mengapa kita yang tinggal di negara religius ini, yang sejak kecil dididik dengan agama dan tauhid ini justru mudah untuk menyerah? Ayo…Mari Kita Bangkit dan Berbuat!

Baca Artikel Motivasi Lainnya: Artikel Pengembangan Diri YASA Peduli

Ikuti Kegiatan Sosial Terbaru Kami: @yasapeduli

Leave a Comment